Rabu, 12 Desember 2012

Tak bisa ku kembali lagi ....

lalu ku tunggu satu persatu
kembang itu jatuh
dibulan yang sama ditempat yang sama
dengan warna merah menyala

ku rindu tempat itu
ditembok tua dengan nyala lilin
pada patung tua dengan tangan terbuka lebar
rasanya ditaman Eden dipucuk hatiku

kupandang sejenak dimana terbentang ingatanku
lalu sorak sorai kanak kanak melintasi aspal peninggalan Belanda
ku pandang langit dialasi rindang pohon Ketapang
diteduhnya biru laut dengan selat Menanga

dipasir itu diatas sampan tua
dibawah beringin dengan sepoi angin
indahku bersuka cita
dengan nyanyian " Oh Waibalun tanah airku ,tanah tumpah darahku ..."
merinding kuduku meradang hatiku
ku ingat semuanya
namun tak bisa ku kembali lagi
titipku dengan satu namaku
dipohon Reo itu ....

Natal ku kan selalu dengan rinduan kampung halamanku...

di ujung mata semata

Tuhan kan baik denganku
sekali doaku menjunjung tinggi
menembus rupa rupa
mengalahkan segala galanya

Tuhan kan setia denganku
walau lagi dan lagi ku berjanji tak bematerai
mulutku mungkin terpandai berkomat kamit
dan pikirku mungkin Tuhan kan baik mendengarkan keluh kesahku


Sejalan usiaku menua
tubuh ku mulai rentah
kupikir dimana salah dosaku tersilihkan
walau tak sanggup kembali putih
ku mohon dengarkan tulusku bertobat

aku tak layak bersujud
mungkin hanya bisa tertanam dilumpur dosa
baikku cuma satu dan selebihnya
hanya pemanis diujung mata semata

tak semusim ...............

apakah ku sempat terlahir lagi ?
dihimpitan hari ini
disesaknya perjalanan
tanpa cerita panjang
hanya yang sama
bertatap datang dan kembali lagi

tak semusim dengan ini
begitu memulainya dan tak berakhir
hanya songsong cerita debu fana
berlari dan kembali
terlahir dan hilang
bernama dan hanya pigura

mungkin benar cerita lama
terlahir lagi dibeda jalan
tercipta lagi dibeda ruang
semoga teringat aku pernah dibaris ini
menanti baikku datang dan datang lagi